The Da Vinci Code merupakan novel detektif misteri karya penulis novel terkenal yang bernama DanBrown. Novel ini banyak menceritakan tentang simbolog Robert Langdon dan kriptolog Sophie Neveu setelah suatu kasus pembunuhan yang terjadi di Museum Louvre di Paris.
Untuk menuntaskan
novel ini kamu perlu banyak waktu dan harus dalam keadaan santai agar mampu
memahami isi cerita perbab. Kamu akan membaca novel The Davinci Code versibahasa Indonesia di Blog novel ini sampai tamat dengan gratis. Baca Kisahnya
sekarang.
Bab Prolog Novel The Da Vinci
Code Versi Indonesia
Kurator Terkenal, Jacques Saunière menatap jauh melintasi
selasar berongga Galeri Agung Museum Louvre. Ia menerjang lukisan terdekat yang
dapat ia lihat, lukisan Caravaggio. Dengan mencengkeram bingkai bersepuh emas
itu, lelaki berusia 76 itu merenggutkan mahakarya itu ke arah dirinya. Lukisan
itu terlepas dari dinding, dan Saunière terjengkang di bawah kanvas.
Seperti yang telah ia perkirakan, gerbang besi jatuh
bergemuruh di dekatnya, menghalangi pintu masuk ke ruangan suite itu. Lantai
parket bergetar. Di kejauhan, sebuah alarm mulai berdering. Sang kurator
terbaring sebentar, tersengal-sengal, mengumpulkan tenaga. Aku masih hidup. Ia
merangkak keluar dari bawah kanvas, dan memindai ruangan seperti gua itu,
mencari-cari tempat untuk sembunyi. Seseorang bicara, dekat dan mengerikan.
“Jangan bergerak!” Dengan bersitumpu pada tumit dan tangannya, sang kurator
membeku, perlahan memalingkan kepalanya ke arah suara itu.
Hanya lima belas kaki jauhnya, di luar gerbang yang
tertutup, sebuah siluet raksasa dari penyerangnya menatap menembus jeruji besi.
Lelaki itu sangat lebar dan tinggi, dengan kulit sepucat hantu, dan uban tipis
di rambutnya. Bola matanya tampak merah. muda, dengan pupil berwarna merah
gelap. Si albino mencabut pistol dan jasnya, dan membidikkan moncongnya
melewati jeruji, langsung kepada sang kurator. “Kau mestinya tau Ian.” Aksennya
sukar ditentukan dari mana asalnya. “Sekarang, katakan di mana.” “Sudah
kukatakan,” sang kurator tergagap, berlutut tak berdaya di lantai galeri. “Aku
sama sekali tak mengerti apa yang kaubicarakan!” “Kau bohong.”
Lelaki albino itu menatapnya, benar-benar tak bergerak,
kecuali gerakan matanya yang seperti hantu. “Kau dan kelompok persaudaraanmu
memiliki sesuatu yang bukan hak kalian.” Sang kurator merasakan desiran
adrenalin. Bagaimana mungkin ia tahu hal ini? “Malam ini, para pengawal yang
benar-benar berhak akan dipulihkan hakhaknya. Katakan di mana benda itu
tersembunyi, dan kau akan hidup.” Lelaki itu memakukan pistolnya ke arah kepala
sang kurator.
“Apakah itu sebuah rahasia yang mesti kau jaga sampai mati?”
Saunière tak dapat bernapas. Lelaki itu memiringkan kepalanya, mengintip lewat
barel pistolnya. Saunière menyilangkan tangannya, mencoba melindungi diri.
“Tunggu,” katanya perlahan. “Akan kuberi tahu apa yang ingin kautahu.” Sang
kurator lalu mengucapkan kata-kata berikumya dengan hati-hati. Kebohongan yang
Ia ucapkan itu telah dilatihnya berulang-ulang ... setiap kali melatihnya, ia
berdoa agar tak akan pernah menggunakannya. Ketika sang kurator usai bicara,
penyerangnya tersenyum dengan angkuh. “Ya. ini persis seperti kata yang lain
padaku.” Saunière menggigil. Yang lain? “Aku menemukan yang lain juga,” lelaki
besar itu menggoda.
“Ketigatiganya. Mereka membenarkan apa yang baru saja
kaukatakan.” Tak mungkin! Identitas sejati sang kurator, bersama dengan
identitas ketiga sénéchaux-nya, nyaris sama sucinya dengan rahasia kuno yang
mereka jaga. Saunière kini menyadari bahwa para sénechaux-nya, dengan menaati
sebuah prosedur yang ketat, telah memberikan dusta yang sama sebelum mati. Ini
adalah bagian dari protokol. Si penyerang itu mengarahkan pistolnya lagi.
“Ketika kau mati, aku akan menjadi satu-satunya orang yang mengetahui kebenaran
tersebut.” Kebenaran. Dalam sekejap, sang kurator menyadari kengerian sesungguhnya
dari situasi ini. Jika aku mati, kebenaran akan lenyap selamanya. Secara
instingtif, ia mencoba untuk merangkak dan, mencari perlindungan.
Pistol menyalak, dan sang kurator merasakan panas yang
menyengat ketika peluru itu membenam ke dalam perutnya. Ia tersungkur ...
berjuang melawan rasa sakit. Perlahan, Saunière berguling dan menatap balik
pada penyerangnya melalui jeruji besi. Si penyerang kini berancang-ancang
rneletupkan tembakan mematikan ke kepala Saunière. Saunière menutup matanya. Pikirannya
adalah pusaran beliung rasa takut dan sesal. Suara klik dari magasin yang
kosong bergema melintasi koridor. Mata sang kurator membuka cepat.
Si lelaki besar melirik senjatanya, memandangnya dengan
hampir-hampir terhibur. Ia menjangkau Hip kedua, tapi kemudian tampak menimbang
ulang, menyeringai dengan tenang pada isi perut Saunière. “Aku sudah selesai.”
Sang kurator memandang ke bawah, dan melihat lubang peluru pada kemeja linen
putihnya. Lubang itu dikitani oleh sebuah lingkaran darah yang kecil, beberapa
inci di bawah tulang dadanya. Perutku. Peluru itu meleset dari jantungnya.
Sebagai seorang veteran dari la Guerre d’algérie, sang
kurator telah menyaksikan kematian yang mengerikan seperti ini. Ia akan
bertahan selama lima belas menit, ketika asam-asam lambungnya merembes ke dalam
rongga dadanya, meracuninya dari dalam perlahan-lahan. “Rasa sakit itu baik,
Monsieur,” ujar si lelaki besar. Kemudian dia pergi. Kini sendirian, Jacques
Saunière memalingkan lagi tatapannya ke gerbang besi. Dia terperangkap, dan
pintu-pintu tak akan dapat dibuka kembali paling tidak untuk dua puluh menit
lagi.
Saat siapa pun mencapai tubuhnya, ia sudah mati. Namun
demikian, rasa takut yang sekarang mencengkeram dirinya jauh lebih besar
daripada rasa takut akan kematiannya sendiri. Aku harus mewariskan rahasia ini.
Sambil menatap kakinya, dia membayangkan ketiga saudara seperkumpulannya yang
telah mati.
Dia berpikir tentang generasi demi generasi yang telah hidup
sebelum mereka ... tentang misi yang telah dipercayakan kepada dirinya dan para
saudaranya itu. Sebuah rantai pengetahuan yang tak pernah putus. Kini, lepas
dari segala tindakan berjaga-jaga ... lepas dari segala pengamanan data...
Jacques Saunière tiba-tiba telah menjadi satu-satunya mata rantai yang tersisa,
satu-satunya penjaga dari sebuah rahasia paling kuat yang pernah ada. Gemetar,
dia merengkuh kakinya. Aku harus menemukan sebuah cara.
Ia terperangkap di dalam Galeri Agung, dan hanya ada satu
orang di muka bumi yang dapat ia wariskan obor rahasia ini. Saunière menatap ke
atas, ke dinding-dinding dan penjaranya yang luar biasa ini. Sebuah koleksi
dari lukisan-lukisan paling terkenal di dunia tampak seakan tersenyum menatap
ke bawah, kepada dirinya, bagai sahabat-sahabat lama. Dengan mengatupkan
geraham menahan sakit, ia menghimpun segala daya dan kekuatan yang masih dia
miliki. Dia tahu, tugas yang mendesak di hadapannya membutuhkan setiap detik
dari sisa hidupnya.
Penutup Bab Prolog Novel The Da
Vinci Code
Terima kasih telah membaca novel bab prolog the da vinci code karya Dan Brown yang telah di terjemahkan ke bahasa indonesia. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengikuti navigasi Bab di bawah ini. Atau mengklik tombol open yang ada di bawah.

