The Da Vinci Code merupakan novel detektif misteri karya penulis novel terkenal yang bernama Dan Brown. Novel ini banyak menceritakan tentang simbolog Robert Langdon dan kriptolog Sophie Neveu setelah suatu kasus pembunuhan yang terjadi di Museum Louvre di Paris.
Untuk menuntaskan
novel ini kamu perlu banyak waktu dan harus dalam keadaan santai agar mampu
memahami isi cerita perbab. Kamu akan membaca novel The Davinci Code versi
bahasa Indonesia di Blog novel ini sampai tamat dengan gratis. Baca
Kisahnya sekarang.
Bab 3 Novel The Da Vinci Code
Versi Indonesia
CUACA BULAN April yang segar dan kering mengalir melewati
jendela yang terbuka di dalam Citroën ZX. Mobil itu meluncur ke selatan
melewati Gedung Opera dan menyeberangi Place Vendôme. Di tempat duduk
penumpang, Robert Langdon merasa kota ini melaju dengan cepat melewatinya
ketika ia berusaha menjernihkan pikirannya.
Mandi cepat dengan pancuran dan bercukur telah menolong
penampilan Langdon menjadi cukup pantas, namun perasaan cemasnya tak begitu
berkurang. Gambar jasad kurator yang menakutkan tadi masih menancap di otaknya.
Jacques Saunière mati. Langdon merasa sangat kehilangan atas kematian kurator
itu. Walaupun selalu bersikap seperti pertapa, dedikasi Saunière pada seni
membuat dirinya dihormati.
Buku-bukunya tentang kode-kode rahasia yang tersembunyi
dalam lukisan-lukisan Poussin dan Teniers adalah buku-buku teks kesukaan
Langdon dalam kuliahnya. Pertemuan mereka malam ini telah sangat
dinanti-nantikan Langdon, dan dia sangat kecewa ketika kurator itu tidak
datang. Kembali gambaran mayat kurator itu berkelebat dalam benaknya.
Jacques Saunière melakukan itu pada dirinya sendiri? Langdon
menoleh dan melihat ke luar jendela, mengusir bayangan itu dari pikirannya. Di
luar, kota itu baru saja memulai kegiatannya—para penjaja mendorong kereta
gula-gula amandes, para pelayan membawa kantong sampah ke tepi jalan, sepasang
kekasih yang kemalaman berjalan sambil saling bergelayut supaya tetap hangat
diterpa angin berarorna kembang melati. Mobil Citroën mengatasi kekacauan kota
itu dengan yakin. Sirene dua nadanya membelah lalu-lintas seperti pisau tajam.
“Le capitaine senang ketika dia tahu Anda masih berada di Paris malam ini,”
ujar agen itu sambil mengemudi, untuk pertama kalinya berbicara sejak mereka
meninggalkan hotel. “Kebetulan yang menguntungkan.”
Langdon sama sekali tidak merasa beruntung, dan kebetulan
adalah sebuah konsep yang sama sekali tidak dipercayainya. Sebagai seseorang
yang sepanjang hidupnya meneliti, saling keterkaitan yang tersembunyi antara
emblem-emblem dan ideologi-ideologi, Langdon melihat dunia sebagai sebuah
sarang laba-laba yang terbentuk dan saling terkaitnya sejarah-sejarah dan
kejadian-kejadian. Hubungan itu mungkin saja tak terlihat, begitu dia ajarkan
di depan kelas simbologi di Harvard, tetapi hubungan tersebut selalu ada,
terkubur tepat di bawah permukaan. “Universitas Amerika Paris memberi tahu
tempat saya menginap, bukan?” kata Langdon.
Agen itu menggelengkan kepalanya. “Interpol.” Interpol,
pikirnya. Tentu saja. Dia lupa bahwa permintaan yang tampak sepele akan
pemeriksaan paspor saat chek-in di semua hotel di Eropa ternyata lebih dari
sekadar formalitas sepele—itu peraturan hukum. Pada sembarang malam, di seluruh
Eropa, agen interpol sanggup melacak dengan pasti siapa sedang tidur di mana.
Menemukan Langdon tidur di Ritz mungkin hanya butuh waktu lima detik.
Begitu Citroën itu mempercepat lajunya ke arah selatan
membelah kota, Menara Eiffel yang anggun mulai tampak, menjulang ke angkasa, di
arah kanan. Saat menatapnya, Langdon teringat pada Vittoria; dia terkenang
janji main-main mereka untuk selalu bertemu enam bulan sekali di tempat-tempat
romantis di seluruh dunia. Menara Eiffel, perkiraan Langdon, ada juga dalam
daftar mereka. Sayangnya, ciuman terakhir Langdon pada Vittoria adalah ketika mereka
di Roma lebih dari setahun yang lalu. “Anda pernah menaiki perempuan ini?”
tanya agen itu sambil menatap menara itu.
Langdon melihat ke atas, jelas dirinya tak mengerti. “Maaf?”
“Dia sangat cantik, bukan?” ujar agen itu lagi sambil mengarah ke Menara Eiffel.
“Sudah pernah menaikinya?” Langdon menggulung matanya ke atas. “Belum. Saya
belum pernah menaiki menara itu.” “Menara itu simbol Prancis. Menurutku, menara
itu sempurna” Langdon mengangguk begitu saja.
Simbologi sering mengungkap bahwa Prancis—negeri yang
terkenal akan kesan jantan dan hidung belang, juga pemimpin-pemimpin mereka
yang kecil dan pencemas, Napoleon dan Pepin si Pendek—seolah tak dapat memilih
simbol yang lebih baik daripada sekadar sebuah lingga setinggi seribu kaki.
Saat mereka tiba di persimpangan di Rue de Rivoli, lampu lalu lintas menyala
merah, namun Citroën itu tak memperlambat lajunya.
Agen itu mengarahkan sedannya menyeberangi persimpangan itu
dan meluncur cepat ke arah area berpepohonan, Rue Castiglione~ yang merupakan
gerbang utara masuk ke Taman Tuileries yang tersohor itu—ini adalah Central
Park ala Paris. Umumnya para turis salah menerjemahkan Jardines des Tuileries
sebagai sebuah taman penuh dengan ribuan tulip mekar, namun Tuileries
sebenarnya berkaitan dengan sesuatu yang sangat kurang romantis. Taman ini
dulunya merupakan penggalian sumur besar yang sangat tercemar. Dari sinilah
para kontraktor paris menambang tanah liat untuk membuat genteng merah yang
sangat terkenal untuk kota itu, atau tuiles. Ketika mereka memasuki taman yang
sunyi itu, agen itu merogoh ke bawah dasbor untuk mematikan sirene yang
meraung.
Langdon menghembuskan napasnya, menikmati kesenyapan yang
tiba-tiba itu. Di luar mobil, sinar lampu mobil yang pucat jatuh ke atas jalan
kerikil di taman itu; derak-derak ban mobil di atasnya seperti alunan yang
menghipnotis.
Langdon selalu memandang Tuileries sebagai tanah suci. Ini
adalah taman tempat Claude Monet bereksperiman dengan bentuk dan warna, dan
memberinya inspirasi pada aliran lukisannya, impresionisme. Namun, malam ini
taman ini beraura penuh firasat yang aneh. Citroën membelok ke kiri sekarang,
mengarah ke barat ke bulevar pusat taman ini.
Mengelilingi kolam bulat, pengemudi itu memotong jalan
terpencil dan memasuki lapangan segi empat. Sekarang Langdon dapat melihat
ujung Taman Tuileries, ditandai dengan gerbang batu. Arc du Carrousel. Walau
dulu ritual orgi pernah diadakan di Arc du Carrousel ini, para pencinta
kesenian memuja tempat ini karena alasan yang betul-betul lain.
Dari tanah lapang di ujung taman ini bisa terlihat empat
museum kesenian terindah di dunia ... satu di setiap mata angin. Dari jendela
sebelah kanan, ke arah selatan menyeberangi Sungai Seine dan Quai Voltaire,
Langdon dapat melihat cahaya lampu bagian muka stasiun kereta api tua—sekarang
menjadi Musée d’Orsay yang anggun. Mengerling ke kiri, dia dapat mencapai atap
dan gedung ultra modern Pompidou Centre, yang merupakan Museum Kesenian Modern.
Di belakangnya, ke arah barat, Langdon tahu, obelisk Ramses
kuno menjulang melebihi pepohonan, menandai sebuah museum lagi, Musée du Jeu de
Paume. Dan, lurus ke depan, ke arah timur, melewati gerbang itu, Langdon dapat
melihat monolit istana Renaissance yang telah menjadi museum paling tersohor di
dunia. Musee du Louvre. Langdon merasa takjub ketika matanya tak mampu
menangkap keseluruhan bangunan besar itu.
Di seberang sebuah plaza yang sangat luas, bagian muka
Museum Louvre yang mencolok tampak menjulang bagai benteng, ke langit Paris.
Berbentuk seperti tapal kuda raksasa, Louvre merupakan gedung terpanjang di
Eropa, merentang lebih panjang daripada tiga kali Eiffel yang dibaringkan.
Plaza terbuka seluas sejuta kaki di antara sayapsayap museum bahkan tak dapat
menyaingi luas bagian muka museum. Langdon pernah berjalan-jalan di dalam
Louvre, dan dia ternyata menempuh tiga mil perjalanan.
Diperkirakan, diperlukan kunjungan lima hari bagi seorang
wisatawan untuk dapat menikmati 65.300 benda seni di dalam gedung ini dengan
saksama. Namun demikian, umumnya wisatawan memilih pengalaman singkat yang Langdon
sebut sebagai “Louvre Lite”—yaitu kunjungan singkat ke museum itu yang Langsung
menuju ke tiga objek yang paling tersohor, Mona Lisa, Venus de Milo, dan Winged
Victory. Art Buchwald pernah membual bahwa dia melihat ketiga adikarya itu
hanya dalam waktu 5 menit dan 56 detik saja. Agen itu mengeluarkan
walkie-talkie genggam dan berbicara dalam bahasa Prancis dengan sangat cepat,
memberitahukan bahwa Langdon telah tiba.
“Monsieur Langdon est arrive. Deux minutes.” Sebuah
konfirmasi yang tak jelas terdengar. Agen itu menyimpan kembali alat tadi, lalu
menoleh kepada Langdon. “Anda akan bertemu dengan Capitaine di pintu masuk
utama.” Agen itu mengabaikan tanda larangan masuk di plaza, menyalakan kembali
mesin mobil, dan menjalankan Citroën itu melintasi tepi jalan. Pintu masuk
utama Louvre sudah terlihat kini, muncul begitu saja di kejauhan, dikeliingi
oleh tujuh kolam segi tiga dengan air mancur yang diterangi cahaya. La
Pyramide. Hampir seperti orang Neanderthal, berpakaian jas double-breast
berwama gelap yang tampaknya menutupi kebidangan bahunya.
Dia berjalan dengan tungkai-tungkai sangat terlatih dalam
berjongkok sehingga menjadi sangat kuat. Dia sedang berbicara lewat telepon
selularnya, namun menyelesaikan pembicaraan ketika tiba di depan Langdon. Dia
memberi isyarat kepada Langdon untuk masuk. “Saya Bezu Fache,” katanya ketika
Langdon masuk melalui pintu putar. “Kapten Central Directorate Judicial
Police.”
Nada suaranya pas—bergumam parau ... seperti badai yang
hendak tiba. Langdon mengangsurkan tangannya untuk berjabat tangan. “Robert
Langdon.” Tangan Fache yang besar membungkus tangan Langdon dengan sangat kuat.
“Aku sudah melihat foto itu,” ujar Langdon. “Agen Anda mengatakan bahwa Jaques
Saunière sendiri yang melakukan—” “Pak Langdon,” mata hitam Fache menatap. “Apa
yang Anda lihat di foto itu baru awal dari apa yang dilakukan Saunière.”
Penutup Bab 3 Novel The Da Vinci
Code
Terima kasih
telah membaca novel Bab 3 the
da vinci code karya Dan Brown yang telah di terjemahkan ke bahasa indonesia.
Silahkan baca bab berikutnya dengan mengikuti navigasi Bab di bawah ini. Atau mengklik
tombol open yang ada di bawah.
