The Da Vinci Code merupakan novel detektif misteri karya penulis novel terkenal yang bernama Dan Brown. Novel ini banyak menceritakan tentang simbolog Robert Langdon dan kriptolog Sophie Neveu setelah suatu kasus pembunuhan yang terjadi di Museum Louvre di Paris.
Untuk menuntaskan
novel ini kamu perlu banyak waktu dan harus dalam keadaan santai agar mampu
memahami isi cerita perbab. Kamu akan membaca novel The Davinci Code versi bahasa Indonesia di Blog novel ini sampai tamat dengan
gratis. Baca Kisahnya sekarang.
Bab 4 Novel The Da Vinci Code
Versi Indonesia
KAPTEN Bezu Fache bergaya seperti sapi jantan yang sedang
marah, dengan bahu bidang yang tertarik ke belakang dan dagu menempel kuat pada
dadanya. Rambut hitamnya disisir ke belakang dengan minyak, memperjelas anak
rambut yang meruncing seperti anak panah pada dahinya yang membagi keningnya
yang menonjol dan maju seperti haluan kapal perang.
Ketika dia bergerak maju, matanya seperti menghanguskan tanah di depannya, menyinarkan kejernihan yang berapi-api, menggambarkan reputasi keberaniannya yang luar biasa dalam menghadapi segala masalah.
Langdon mengikuti kapten itu menuruni anak tangga pualam
yang terkenal itu ke dalam atrium di bawah piramid kaca. Saat mereka turun,
mereka melewati dua orang agen Polisi Judisial bersenapan mesin. Jelas sudah :
tak seorang pun dapat masuk atau keluar malam ini tanpa restu dari Kapten Fache.
Turun ke lantai dasar, Langdon melawan perasaan ragu. Penampilan Fache sama
sekali tidak ramah, dan Louvre sendiri beraura makam pada jam seperti ini.
Tangga itu, seperti gang gelap dalam gedung bioskop, disinari oleh lampu tapak
yang tak kentara yang ditanam pada setiap anak tangganya. Langdon dapat
mendengar bunyi langkahnya sendiri menggaung pada kaca di atas kepalanya.
Ketika dia melihat ke atas, dia melihat helai-helai kabut
yang bersinar dan semprotan air mancur di luar atap tembus pandang itu. “Anda
suka?” tanya Fache, menunjuk ke atas dengan dagu lebarnya. Landon mendesah,
terlalu letih untuk bermain-main. “Ya, piramid Anda luar biasa.” Fache
menggumam. “Merupakan bekas cakaran pada wajah Paris.” Kena kau! Langdon merasa
bahwa tuan rumahnya adalah orang yang sulit diambil hati. Dia bertanya-tanya
apakah Fache tahu bahwa piramid ini, atas permintaan tegas Presiden Mitterand,
telah dibangun dengan 666 kaca jendela—permintaan aneh yang selalu menjadi
topik panas di kalangan penggemar konspirasi yang menyatakan bahwa 666 adalah
angka setan. Langdon memutuskan untuk tidak membicarakannya.
Ketika mereka tiba di serambi bawah tanah, ruangan yang
menganga berangsur-angsur muncul dari kegelapan. Dibangun di kedalaman 57 kaki
di bawah permukaan tanah, ruang lobi Louvre yang baru dibangun seluas 70.000
kaki persegi itu terentang seperti gua tak berujung.
Didirikan dengan pualam berwarna kuning tua yang hangat yang
sangat sesuai dengan bebatuan berwarna madu di bagian muka Louvre di atas,
ruang bawah tanah ini biasanya hidup dengan cahaya matahari dan para wisatawan.
Malam ini, lobinya gelap dan mati, memberi kesan seluruh ruangan ini menjadi
dingin dan beratmosfer ruang bawah tanah. “Dan para petugas keamanan museum
yang biasa?” tanya Langdon. “En quarantaine,” jawab Fache, dengan suara seolah
Langdon telah mempertanyakan integritas anggota timnya. “Tentu saja, seseorang
yang tidak boleh masuk telah berhasil masuk malam ini. Semua penjaga malam
Louvre sekarang sedang diinterogasi di Sayap Sully. Agen-agenku sendiri telah
mengambil alih keamanan museum malam ini.”
Langdon mengangguk, bergerak cepat supaya tak tertinggal
oleh Fache. “Sejauh mana Anda mengenal Jacques Saunière?” tanya kapten itu.
“Sebenarnya saya sama sekali tidak mengenalnya. Kami belum pernah bertemu.”
Fache tampak terkejut. “Pertemuan pertama kalian terjadi malam ini, bukan?”
“Kami berencana untuk bertemu di lobi penerima tamu Universitas America setelah
saya selesai memberikan ceramah, tetapi dia tak pernah muncul.”
Fache menulis beberapa catatan dalam buku kecilnya. Ketika
mereka berjalan, Langdon melihat sekilas piramid Louvre yang tak banyak
diketahui orang, La Pyramide Inversée—sebuah atap kaca tertelungkup yang besar
sekali yang tergantung di langit-langit seperti sebuah stalaktit di tengah
sebuah mezanin. Fache membawa Langdon menaiki tangga pendek ke arah mulut
gerbang sebuah terowongan. Di atasnya tertulis: DENON. Sayap Denon adalah salah
satu dari tiga bagian utama Louvre yang paling ternama. “Siapa yang meminta
pertemuan malam ini?” tanya Fache tiba-tjba. “Anda atau dia?” Pertanyaan itu
terdengar aneh.
“Pak Saunière,” jawab Langdon ketika mereka memasuki
terowongan itu. “Sekretarisnya menghubungiku beberapa minggu yang lalu lewat
e-mail. Katanya kurator itu telah mendengar bahwa saya akan memberikan ceramah
di Paris bulan ini dan ingin mendiskusikan sesuatu saat saya di sini.”
“Mendiskusikan apa?” “Saya tidak tahu. Seni, kukira. Kami mempunyai minat yang
sama.” Fache tampak ragu.
“Anda tak tahu akan membicarakan apa pada pertemuan itu?” Langdon
memang tidak tahu. Dia juga sangat penasaran saat itu, namun merasa tidak enak
menanyakan secara rinci. Jacques Saunière terkenal suka hidup sendiri dan hanya
bertemu dengan orang lain beberapa kali saja; Langdon sudah sangat berterima
kasih mendapatkan kesempatan bertemu dengannya. “Pak Langdon, dapatkah Anda,
setidaknya menerka, apa kiranya yang ingin didiskusikan oleh korban dengan Anda
pada malam dia terbunuh? Itu mungkin akan sangat membantu.” Pertanyaan yang
menohok itu sangat membuat Langdon tidak nyaman.
“Saya betul-betul tidak dapat membayangkannya. Saya juga
tidak menanyakannya. Saya sudah merasa terhormat beliau menghubungi saya. Saya
mengagumi karya beliau dan menggunakan buku-buku beliau dalam kuliah saya.”
Fache mencatat itu dalam bukunya. Kedua lelaki itu sekarang sudah separuh jalan
memasuki terowongan Sayap Denén, dan Langdon dapat melihat eskalator kembar di
kejauhan. Keduanya tak bergerak. “Jadi Anda memiliki minat yang sama
dengannya?” tanya Fache. “Ya. Kenyataannya, tahun lalu banyak saya habiskan
untuk menulis konsep sebuah buku yang berhubungan dengan keahlian utama Pak
Saunière. Saya menunggu bisa mengambil otaknya.”
Fache menatapnya. “Maaf?” Tampaknya idiom itu tak dimengerti
sang kapten. “Saya menunggu untuk dapat mempelajari pemikirannya pada topik
tersebut.” “O, begitu. Dan apa topiknya?” Langdon ragu-ragu, tak yakin
bagaimana dia akan mengatakannya. “Pada intinya, naskah itu tentang ikonografi
pemujaan para dewi—konsep kesucian perempuan dan seni serta simbol-simbol yang
terkait dengannya.” Fache mengusap rambutnya dengan tangan gemuknya. “Dan
Saunière tahu banyak tentang ini?” “Tak ada yang tahu lebih banyak daripada
dia.” “O, begitu.” Langdon merasa bahwa sesungguhnya Fache tidak mengerti sama
sekali. Jacques Saunière dipandang sebagai ahli ikonografi para dewi yang utama
di bumi ini. Saunière tidak hanya memiliki semangat pribadi akan benda-benda
keramat yang berkaitan dengan kesuburan, pemujaan dewi, Wicca, dan perempuan
suci. Dalam dua puluh tahun masa jabatannya sebagai kurator, Saunière telah
membantu Museum Louvre mengumpulkan koleksi terbesar akan seni dewi di muka
bumi—kampak-kampak labrys dari para pendeta Yunani suci tertua di Delphi,
tongkat-tongkat tabib dari emas, ratusan Tjet ankhs yang menyerupai
malaikat-malaikat kecil berdiri, perkusi Mesir kuno yang digunakan untuk
mengusir roh-roh jahat, dan kumpulan patung yang menggambarkan Horns sedang
disusui oleh Dewi Isis. “Mungkin Jacques Saunière tahu tentang naskah Anda?”
Fache memberikan masukan.
“Dan dia menjadwalkan pertemuan ini untuk membantu Anda
dalam penulisan buku itu.” Langdon menggelengkan kepalanya. “Sebenarnya belum
ada yang tahu tentang naskah saya itu. Masih dalam bentuk konsep, dan saya
belum memperlihatkannya kepada siapa pun, kecuali editor saya.” Fache terdiam.
. Langdon tidak menambahkan alasan mengapa dia tidak memperlihatkan naskah
tersebut kepada orang lain. Konsep setebal tiga ratus halaman itu—- sementara
ini berjudul Symbols of the Lost Sacred Feminine—mengemukakan beberapa
interpretasi yang sangat nonkonvensional dan ikonografi reigius yang baku.
Buku ini pasti akan menjadi kontroversial. Sekarang, ketika
Langdon mendekati eskalator yang tak bergerak tadi, dia berhenti, menyadari
bahwa Fache sudah tak bersamanya lagi. Dia memutar tubuhnya, dan menemukan
Fache sedang berdiri beberapa yard darinya, di depan lift yang berfungsi. “Kita
naik lift saja,” ujar Fache ketika pintu lift terbuka. “Saya yakin, Anda tahu
letak galeri itu jauh jika kita berjalan kaki.” Walau dia tahu lift itu akan
mempercepat perjalanan mereka ke dua tingkat ke atas ke Sayap Denon, langdon
tetap tak bergerak.
“Ada masalah?” tanya Fache menahan pintu, tampak tak sabar.
Langdon menarik napas, menatap lagi dengan penuh hasrat, ke eskalator dengan
udara terbuka di atasnya. Tidak ada masalah sama sekali, dia menipu dirinya
sendiri, menyeret kakinya menuju lift. Di masa kecilnya, Langdon pernah
terjatuh ke dalam sumur sempit yang sudah ditinggalkan dan hampir mati
menjejak-jejakkan kakinya di air dalam ruang sempit selama berjam-jam sebelum
akhirnya diselamatkan.
Sejak saat itu, dia memiliki fobia akan ruangan
tertutup—lift, kereta bawah tanah, lapangan squash. Lift adalah mesin yang
betul-betul aman, kata Langdon berkali-kali pada dirinya sendiri, walau tanpa
pernah memercayainya. Itu hanya kotak metal kecil tergantung di dalam lorong
tertutup. Sambil menahan napas, dia melangkah masuk, merasakan perasaan gelitik
adrenalin yang tak asing ketika pintu lift tertutup. Dua lantai. Sepuluh detik.
“Anda dan Pak Saunière,” ujar Fache ketika lift mulai bergerak, “kalian sama
sekali belum pernah berbicara? Tak pernah bersurat-suratan? Tak pernah saling
berkirim barang lewat pos?” Pertanyaan aneh lagi.
Langdon menggelengkan kepalanya. “Tidak. Tidak pernah.”
Fache menegakkan kepalanya, seolah mencatat fakta itu dalam hati. Tanpa
mengatakan apa-apa lagi, dia hanya menatap pintu-pintu dari chrome itu. Ketika
mereka naik, Langdon mencoba memusatkan perhatiannya kepada apa saja selain empat
tembok yang mengeilinginya.
Dalam pantulan pintu lift yang mengilap, dia melihat jepit
dasi sang kapten—sebuah salib perak dengan tiga belas batu onyx hitam tertanam.
Langdon agak heran. Simbol itu dikenal sebagai sebuah crux gemmata—salib dengan
tiga belas batu permata— ideogram Kristen bagi Kristus dan dua betas rasul.
Namun begitu, Langdon tak mengira seorang kapten polisi Prancis akan memamerkan
simbol keagamaan dengan begitu terbuka. Lagi pula, ini Prancis; Kristen
bukanlah sebuah agama disini, tidak seperti hak lahir. “Ini sebuah crux
gemmata,” kata Fache tiba-tiba. Kaget, Langdon mengerling dan melihat mata
Fache yang sedang menatapnya pada pantulan pintu lift. Lift itu tersentak berhenti,
dan pintunya terbuka.
Langdon melangkah keluar dengan cepat. Dia sangat ingin
berada di ruangan luas yang dihasilkan oleh langit-langit tinggi galeri-galeri
Louvre yang tersohor itu. Namun, ternyata dia melangkah ke dunia yang sama
sekali berbeda dari yang dia perkirakan. Karena terkejut, Langdon segera
berhenti. Fache menatapnya. “Pak Langdon, saya kira Anda belum pernah melihat
Louvre pada jam tutup seperti ini. Bukan begitu?” Kukira tidak, pikir Langdon,
mencoba bersikap tenang. Biasanya, galeri-galeri Louvre disinari cahaya terang
benderang, namun malam ini begitu gelap.
Alih-alih lampu tipis putih biasa yang bersinar dari atas ke
bawah, sebuah kilau merah yang bisu tampak memancar dari atas, dari papan-papan
potongan-potongan cahaya merah yang menimpa lantai keramik. Ketika menatap
koridor yang suram, Lañgdon sadar, dia seharusnya sudah memperkirakan
pemandangan seperti ini
Sebenarnya, semua
galeri besar menggunakan lampu merah pada malam hari—ditempatkan dengan
strategis, rendah, tidak mencolok sinarnya sehingga cukup bagi penjaga malam
untuk mengawasi lorong namun sekaligus menjaga keawetan warna lukisan-lukisan
sehingga tidak cepat pudar karena terlalu banyak disinari cahaya. Malam ini,
museum itu memiliki kesan yang hampir menyesakkan napas. Bayanganbayangan
panjang mengganggu di mana-mana, dan langit-langit yang menjulang tinggi dan
berkubah menjadi tampak seperti ruang kosong hitam yang rendah. “Ke sini,” ujar
Fache, membelok tajam ke kanan dan memperlihatkan serangkaian galeri yang
saling berhubungan. Langdon mengikutinya.
Matanya mulai terbiasa dengan kegelapan. Semua di
sekitarnya, lukisan-lukisan berukuran besar, mulai menjadi seperti foto-foto
yang diperbesar di depannya dalam sebuah ruang gelap yang sangat besar ... mata
mereka seperti mengikutinya ketika dia bergerak menyusuri ruanganruangan itu.
Dia dapat merasakan udara beraroma tajam khas museum— sebuah sari pelepasan ion
kering yang mengisyaratkan adanya karbon— sebuah produk industri, penyaring
arang untuk pencegahan kelembaban yang bekerja sepanjang hari untuk mengatasi
korosif karbon dioksida yang dihirup para pengunjung. Kamera keamanan dipasang
tinggi pada tembok, memberi tahu para pengunjung dengan jelas: Kami melihat
Anda.. Jangan sentuh apa pun.. “Semua itu betul-betul kamera?” tanya Langdon
sambil menunjuk pada kamera-kamera itu. Fache menggelengkan kepalanya. “Tentu
saja tidak.” Langdon tidak terkejut. Pengawasan melalui video dalam museum
sebesar ini berbiaya sangat mahal dan sama sekali tidak efektif.
Dengan galeri-galeri yang begitu luas, Louvre akan
memerlukan ratusan teknisi untuk memonitor video-video itu. Umumnya
museum-museum besar seperti ini sekarang menggunakan “pengamanan dengan cara
pengurungan”. Lupakan pengusiran pencuri ke luar. Kurung mereka di dalam.
Pengurungan diaktifkan setelah jam tutup, dan jika seorang pencuri memindahkan
barang seni, jalan-jalan keluar galeri itu akan segera tertutup, dan si pencuri
sudah berada di balik terali sebelum polisi datang. Suara-suara terdengar
bergema di sepanjang koridor marmer. Suara itu tampaknya berasal dari sebuah
ruangan istirahat yang besar yang berada di sebelah kanan depan. Sinar terang
memancar ke gang itu. “Ruang kerja kurator itu,” kata sang kapten. Ketika Fache
dan Langdon bergerak mendekati ruangan itu, Langdon mengamati dari gang pendek
ke dalam ruang kerja Saunière yang mewah— berperabot kayu yang hangar,
lukisan-lukisan adikarya tua, dan sebuah meja antik besar sekali yang di
atasnya berdiri patung kesatria berbaju besi lengkap setinggi dua kaki.
Beberapa agen polisi sibuk menelepon dan mencatat di dalam ruangan itu. Salah
satunya duduk di meja Saunière, mengetik pada laptopnya. Tampaknya ruang kerja
pribadi kurator itu sudah menjadi pos komando DCPJ sementara untuk malam ini.
“Mesieurs,” seru Fache, dan orang-orang itu menoleh. “Ne now derangez pas sow
aucun prétexte. Entendu?” Semua orang di ruangan itu mengerti dan mereka
mengangguk. Langdon telah cukup sering menggantungkan tanda NE PAS DERANGEZ di
pintu kamar hotel, sehingga dia mengerti apa maksud sang kapten. Fache dan
Langdon tidak boleh diganggu dengan alasan apa pun.
Mereka kemudian meninggalkan sekelompok polisi itu dan
memasuki gang gelap. Tiga puluh yard ke depan tampak pintu gerbang menuju ke
bagian Louvre yang paling tersohor, La Grande Galerie—sebuah koridor yang
tampaknya tak berujung yang berisi adikarya Italia yang paling berharga.
Langdon sudah mengerti bahwa di sinilah tubuh Saunière tergeletak; Lantai
parket Galeri Agung yang terkenal itu sama persis dengan yang dilihatnya di
Polaroid. Ketika mereka mendekat, Langdon melihat pintu masuk ditutup dengan
jeruji besi besar yang tampak seperti yang digunakan di benteng-benteng abad
pertengahan untuk menahan gerombolan perampok.
“Keamanan pengurungan,” ujar Fache, ketika mereka mendekati
jeruji itu. Bahkan dalam kegelapan, barikade itu tampak mampu menahan serangan
sebuah tank dari luar, Langdon mengamati melalui jeruji itu ke dalam Galeri
Agung yang tampak seperti gua-gua besar yang berpenerangan redup. “Anda dulu,
Pak Langdon,” kata Fache. Langdon menoleh. “Saya dulu? Ke mana?” Fache
menunjuk, ke lantai pada dasar jeruji itu. Langdon melihat ke bawah. Dalam
kegelapan, dia tak dapat melihat. Barikade itu naik kira-kira dua kaki, sehingga
terbuka sedikit di bawah.
“Area ini masih terlarang bagi keamanan Louvre,” kata Fache.
“Tim saya dari Police Technique et Scientique baru saja menyelesaikan
penyidikan mereka.” Dia menunjuk ke celah di bawah. “Silakan menyelinap ke
bawah.” Langdon menatap ke lowongan sempit di kakinya, dan kemudian pada jeruji
kokoh.
Dia bercanda, kan? Barikade itu tampak seperti guillotine
yang siap menghancurkan penyelinap. Fache menggumam dalam bahasa Prancis dan
melihat jam tangannya. Kemudian dia berlutut dan merayap dengan tubuh besarnya
di bawah jeruji itu. Tiba di seberang, dia berdiri dan menatap Langdon melalui
jeruji itu. Langdon mendesah. Dengan meletakkan kedua telapak tangannya pada
parket berpelitur, ia berbaring pada perutnya dan merayap ke depan. Ketika dia
menerobos di bawah jeruji, kerah jas Harris-nya tersangkut jeruji dan
punggungnya menyentuh jeruji besi itu. Halus sekali, Robert, pikirnya,
meraba-raba dan akhirnya berhasil merayap. Ketika berdiri, Langdon mulai
khawatir kalau ini akan menjadi malam yang panjang.
Penutup Bab 4 Novel The Da Vinci
Code
Terima kasih
telah membaca novel Bab 4 the da vinci code karya Dan Brown yang telah di terjemahkan ke bahasa
indonesia. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengikuti navigasi Bab di bawah
ini. Atau mengklik tombol open yang ada di bawah.