The Da Vinci Code merupakan novel detektif misteri karya penulis novel terkenal yang bernama Dan Brown. Novel ini banyak menceritakan tentang simbolog Robert Langdon dan kriptolog Sophie Neveu setelah suatu kasus pembunuhan yang terjadi di Museum Louvre di Paris.
Untuk menuntaskan
novel ini kamu perlu banyak waktu dan harus dalam keadaan santai agar mampu
memahami isi cerita perbab. Kamu akan membaca novel
The Davinci Code versi bahasa Indonesia di Blog novel ini sampai tamat dengan gratis.
Baca Kisahnya sekarang.
Bab 5 Novel The Da Vinci Code
Versi Indonesia
Murray Hill Place—markas pusat Opus Dei World yang baru dan
pusat konferensi—terletak di 243 Lexington Avenue di New York City. Dengan
harga hanya sekitar 47 juta dolar Amerika, menara berluas 133.000 kaki persegi
itu terbungkus oleh batu bata merah dan batu kapur Indiana.
Dirancang oleh May & Pinska, gedung itu berisi seratus kamar tidur, enam ruang makan, perpustakaan-perpustakaan, ruang-ruang duduk, ruang-ruang rapat, dan ruangruang kerja. Lantai 2, 8, dan 16 terdiri atas kapel-kapel, berornamen hiasanhjasan dan kayu dan pualam. Lantai 17 seluruhnya diperuntukican sebagai tempat tinggal. Laki-laki memasuki gedung itu dari pintu-pintu masuk utama di Lexinton Avenue; perempuan masuk melalui jalan sampig dan “dipisahkan secara akustik dan visual” dari lelaki selama berada di dalam gedung itu.
Di awal malam ini, di dalam tempat perlindungannya di
apartemen penthouse-nya, Uskup Manuel Aningarosa telah mengemas pakaiannya
dalam tas bepergian kecil dan mengenakan jubah hitam tradisionai.
Biasanya dia mengenakan ikat pinggang ungu, namun malam ini
dia akan bepergian di tengah-tengah orang banyak, dan dia tidak ingin menarik
perhatian karena kedudukannya yang tinggi. Hanya orang bermata jeli yang akan
dapat meliliat cincin emas keuskupan 14 karat yang dipakainya, dengan batu
permata ametis ungu, berlian besar, dan songkok mitre-crozier appliqué buatan
tangan. Sambil menyandang tas bepergian itu pada bahunya, Aringarosa berdoa
lirih dan meninggalkan apartemennya, turun ke lobi menemui sopirnya yang akan
mengantarnya ke bandara. Sekarang, dia sudah duduk di dalam pesawat komersial
yang akan membawanya ke Roma. Aringarosa melongok ke luar jendela, ke Samudra
Atlantik yang gelap.
Matahari telah tenggelam, tetapi Aringarosa tahu bahwa
bintangnya sendiri tengah terbit. Ma/am ini, perang itu akan kumenangkan,
pikirnya, merasa kagum karena hanya beberapa bulan yang lalu dia merasa begitu
tak kuasa melawan tangan yang berniat menghancurkan kerajaannya. Sebagai
Direktur Utama Opus Dei, Uskup Aringarosa telah menghabiskan satu dekade dalam
hidupnya menyebarkan pesan dan “Karya Tuhan”—secara harfiah, Opus Dei.
Jemaatnya, didirikan pada tahun 1928 oleh pendeta Spanyol Josemaria F.scrivá,
mengembangkan sebuah gerakan kembali ke nilai Katolik konservatif dan mendorong
para pengikutnya untuk memperbanyak pengorbanan-pengorbanan dalam hidup mereka
sendiri sebagai usahanya menjalankan Karya Tuhan.
Filsafat Opus Dei pada mulanya berakar di Spanyol sebelum
rezim Franco, namun dengan dipublikasikannya buku spiritual Josemaria Escrivá
pada tahun 1934 berjudul The Way—berisi 999 butir meditasi untuk melaksanakan
Karya Tuhan dalam kehidupan seseorang—maka pesan Escrivá itu meledak di seluruh
dunia. Sekarang, dengan The Way terjual lebih dari empat juta kopi dalam 42
bahasa, Opus Dei merupakan kekuatan yang mendunia.
Balairungbalairungnya, pusat-pusat pengajaran dan bahkan
universitasuniversitasnya dapat dijumpai di kota-kota metropolitan besar di
dunia. Opus Dei merupakan organisasi Katolik yang berkembang paling cepat dan
terkaya di dunia. Sialnya, Aringarosa telah mempelajari, di era kesinisan pada
agama, cara pemujaan, dan khotbah-khotbah jarak jauh, peningkatan kemakmuran
dan kekuatan Opus Dei mengundang kecurigaan. “Banyak orang menyebut Opus Dei
sebagai perkumpulan pencucian otak,” para wartawan sering memancing pernyataan
itu. “Yang lainnya lagi menyebut Anda sebagai kelompok rahasia Kristen yang
ultrakonservatif. Yang mana Anda sebenarnya?” “Opus Dei bukan keduanya,” uskup
itu akan menjawabnya dengan sabar. “Kami adalah Gereja Katolik. Kami adalah
jemaat Katolik yang telah memilih, sebagai prioritas kami, untuk mengikuti
doktrin Katolik sekuat mungkin dalam kehidupan sehari-hari“ “Apakah Karya Tuhan
harus memasukkan sumpah kesucian, berzakat, dan penebusan dosa dengan cara
mencambuk diri dan mengikat diri dengan cilice?” “Anda hanya menggambarkan
sebagian kecil dari populasi jemaat Opus. Dei,” ujar Aringarosa. “Ada banyak
tingkat kepatuhan.
Ribuan anggota Opus Dei menikah, mempunyai keluarga, dan
menjalankan Karya Tuhan dalam komunitas mereka masing-masing. Yang lainnya
memilih hidup ekstrem di dalam biara kami. Pilihan-pilihan ini pribadi
sifatnya, tetapi setiap orang di Opus Dei mempunyai tujuan yang sama, yaitu
memperbaiki dunia dengan cara menjalankan Karya Tuhan. Tentu saja ini merupakan
suatu pencarian yang sangat mulia.” Walau begitu, pertimbangan akal sehat
jarang berhasil. Media massa selalu cenderung ke arah skandal, dan Opus Dei,
seperti juga umumnya organisasi besar lainnya, mempunyai, di antara
anggota-anggotanya, sedikit orang yang menyimpang yang mengejar bayangan.
Dua bulan yang lalu, suatu kelompok Opus Dei di sebuah
universitas di barat bagian tengah tertangkap basah membius pengikut barunya
dengan obat yang dapat menimbulkan halusinasi, dalam usaha mereka untuk membuat
orang itu mencapai keadaan eforia sehingga anggota baru itu akan merasakannya
sebagai pengalaman religius. Seorang mahasiswa lainnya telah menggunakan ikat
pinggang berduri cilice-nya lebih sering daripada yang dianjurkan, yaitu dua
jam dalam sehari, dan dia hampir saja terkena infeksi yang mematikan. Di Boston
baru saja terjadi, seorang investor bank yang masih muda menyumbangkan semua
tabungan hidupnya kepada Opus Dei sebelum membunuh dirinya.
Domba yang salah bimbing, pikir Aringarosa, dia sangat
prihatin karenanya. Tentu saja, aib terbesar adalah penyebarluasan persidangan
seorang agen mata-mata FBI Robert Hansen, yang ingin menjadi anggota Opus Dei
yang menonjol tapi ternyata berubah menjadi seorang hamba seks. Persidangannya
menguak bukti bahwa dia memiliki kamera video tersembunyi di kamar tidurnya
agar teman-temannya dapat menyaksikan saat dia bercinta dengan istrinya. “Sukar
dipercaya kalau dia tadinya penganut Katolik yang taat,” kata hakim. Sedihnya,
semua peristiwa ini telah membantu berkembangnya sebuah organisasi pengawas
baru, dikenal dengan nama Opus Dei Awareness Network (ODAN), ‘Jaringan Waspada
Opus Dei’. Web site kelompok ini— www.odan.org——menyiarkan cerita-cerita
mengerikan dari mantan anggotaanggota Opus Dei yang memperingatkan bahayanya
bergabung dengan Opus Dei.
Media sekarang menganggap Opus Dei sebagai “Mafia Tuhan”
klan “Pemuja Kristus”. Kita takut kepada apa yang kita tak mengerti, pikir
Aringarosa, sambil bertanya-tanya apakah para pengkritik ini tahu berapa banyak
kehidupan yang telah diperkaya oleh Opus Dei. Kelompok itu menikmati
pengabsahan penuh dan restu dari Vatikan. Opus Dei merupakan sebuah perwalian
gereja pribadi dari Paus sendiri. Walau begitu, akhir-akhir ini, Opus Dei telah
menyadari bahwa mereka terancam oleh sebuah kekuatan yang jauh lebih kuat
daripada media ... sebuah musuh tak terduga yang tak terhindarkan oleh
Aringarosa. Lima bulan yang lalu, kalaedoskop dari kekuatan itu telah
mengguncangnya, dan Aringarosa masih limbung karena pukulan itu. “Mereka tidak
tahu peperangan macam apa yang telah mereka mulai,” bisik Aringarosa pada
dirinya sendiri, sambil menatap keluar jendela pesawat terbang, pada lautan
yang gelap di bawahnya. Tiba-tiba, matanya kembali terpusat, terus menatap
pantulan wajahnya yang aneh—gelap dan berbentuk bujur, didominasi oleh hidung
pesek dan bengkok yang pernah ditinju di Spanyol ketika dia masih seorang
pendeta muda. Kekurangan pada tubuhnya sekarang hampir tak kentara.
Dunia Aringarosa adalah batiniah, bukan ragawi. Ketika jet
itu melewati pantai Portugal, telepon selular di dalam jubah Aringarosa mulai
bergetar karena dering bisu. Walaupun ada larangan untuk menggunakan telepon
selular selama penerbangan, narnun Aningarosa tahu, ini panggilan yang tak
boleh diabaikan. Hanya satu orang yang tahu nomor ini, orang yang sekarang
menelepon Aringarosa. Dengan gembira, uskup itu menjawab perlahan, “Ya?” “Silas
telah menemukan batu kunci itu,” kata si penelpon. “Ada di Paris.
Di dalam gereja Saint-Sulpice.” Uskup Aringarosa tersenyum.
“Kalau begitu kita sudah dekat.” “Kita bisa mendapatkannya segera. Tetapi kita
memerlukan pengaruhmu.” “Tentu saja. Katakan apa yang harus kulakukan.” Ketika
Aringarosa mematikan teleponnya, jantungnya berdebar. Kembali dia menatap
kekosongan malam, merasa mengerdil karena kejadian yang telah dimulainya. Lima
ratus mil dari Aringarosa, Silas si albino berdiri di dekat baskom kecil berisi
air dan mengusapi darah dari punggungnya, sambil mengarnati pola-pola darahnya
berputar di dalam air. Bersihkan aku dengan daun hysop dan aku akan bersih, dia
berdoa, mengutip Mazmur. Cuci aku, dan aku akan menjadi lebih putih daripada
salju.
Silas merasakan sebuah peningkatan harapan yang belum pernah
ia rasakan srpanjang hidupnya. Itu mengejutkan dan menggetarkan dirinya. Sejak
sepuluh tahun trrakhir, dia telah mengikuti The Way, membersihkan diri dari
dosa-dosa ...membangun kembali hidupnya ... menghapus kekejaman masa lalunya.
Namun malam ini, semua itu seperti menyerbu datang kembali.
Kebencian yang telah diupayakannya dengan kuat untuk dikuburkan telah terkumpul
kembali. Dia terkejut betapa cepat masa lalunya muncul kembali. Dan bersama
dengan itu, tentu saja, datang juga keahliannya. Berkarat, namun masih bisa
digunakan. Pesan Yesus merupakan pesan kedamaian ... tanpa kekerasan … cinta.
Ini adalah pesan yang diajarkan kepada Silas dari awal, dan pesan itu
disimpannya dalam hati. Namun, pesan ini jugalah yang akan dirusak oleh musuh
Kristus. Siapa yang mengancam Tuhan dengan kekuatan akan bertemu dengan
kekuatan. Tak tergoyahkan dan tabah.
Selama dua milenium, tentara-tentara Kristen telah membela
keyakinan mereka melawan orang-orang yang mencoba menggantikannya. Malam ini,
Silas telah terpanggil untuk berperang. Setelah mengeringkan lukanya, Silas
mengenakan jubah hingga ke mata kakinya. Jubahnya sederhana, terbuat dari wol
gelap, mempertajam keputihan kulit dan rambutnya. Dia mengencangkan ikat
pinggangnya, menaikkan kerudungnya sampai menutup kepala, dan membiarkan mata
merahnya mengagumi pantulannya dalam cermin. Roda-roda itu sedang bergerak. 6
Penutup Bab 5 Novel The Da Vinci
Code
Terima kasih
telah membaca novel Bab 5 the da vinci code karya Dan Brown yang telah di terjemahkan ke bahasa
indonesia. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengikuti navigasi Bab di bawah
ini. Atau mengklik tombol open yang ada di bawah.